Menyelami Sufisme, Menembus Kebekuan formalisme Teologis dengan “Kang Sejo Melihat Tuhan”,Sebuah Pengembaraan dalam Kesunyian Kuala Tungkal…

Tiba-tiba saya jatuh cinta pada sufisme!

Lewat sufisme, saya menemukan “jalan” yang lebih memungkinkan untuk menggapai jawab atas pertanyaan-pertanyaan kehidupan setelah proses pencarian panjang dan berliku. Mungkin karena sufisme berpijak pada “kelenturan” dan bernapas “kesederhanaan”, sehingga tidak terjadi benturan-benturan dengan pemikiran-pemikiran konvensional saya. Setidaknya, dengan sufisme, saya memiliki waktu untuk jeda sesaat, istirah dari deru kebendaan, mengambil napas panjang, menengok ke belakang, untuk menghitung-hitung kemungkinan mengambil ancang-ancang melangkah jauh ke depan.

Dalam sufisme, Gusti Alloh digambarkan dengan penuh senyum. Dan ini benar, bukankah Kanjeng Rasul sendiri mengajarkan agar kita memulai setiap jengkal langkah kehidupan dengan ucapan bismillahirohmanirohim. Sebuah kesaksian bahwa Tuhan adalah puncak dari kasih sayang, sekaligus menepikan simbol-simbol penghukuman. Baca entri selengkapnya »

Dalam situs sufi berbahasa Indonesia, Pustaka Media Online, terdapat referensi singkat mengenai Mohamad Sobary, peneliti LIPI kelahiran Bantul 7 Agustus 1952 yang sempat memimpin Kantor Berita Antara pada masa pemerintahan Gus Dur.

M. Sobary mungkin belum seorang sufi, namun dialog antara Sobary dan kemapanan hidup beragama menyembulkan sesuatu yang sangat menarik: vitalitas kehidupan yang sudah melampaui batas-batas konvensionalitas agama itu sendiri.” Baca entri selengkapnya »

Titik perpotongan seperti apakah yang mewujud dari persentuhan ngoyo dan nrimo dalam konstelasi kehidupan yang kian rumit ini? Mungkin akan tersembul kata-kata ‘kepasrahan’ atau ‘kesederhanaan’ sebagai anasir pengelakan atas ketidakberdayaan. Atau justru idiom-idiom ‘subversif’, bahkan ‘revolusi’ sebagai penegas menggelegaknya deru pemberontakan.

Namun, bisa jadi justru kombinasi keempatnya!

Kisah Kumbakarna dan Bung Hatta kiranya dapat dijadikan model. Kumbakarna memilih tapa turu di Panglebur Gongso karena tak sanggup lagi mengikuti kemauan anarkis Rahwana. Bung Hatta memilih mundur dari istana karena tak sepaham lagi dengan Bung Karno yang kian asyik dengan mimpi-mimpi bombastisnya. Dalam situasi genting mereka justru menyingkir dari perjuangan kongkret. Seakan memilih jalan paling sederhana: pasrah begitu saja pada keadaan. Pengecutkah mereka? Baca entri selengkapnya »

BALADA WIROGUNO, CINTA DAN ABSURDITAS YANG KEJAM

Begitulah cinta selalu menunjukkan kuasa. Hanya dengan seperempat jurus yang paling sederhana, Tumenggung Wiroguno menghabisi nyawa Pronocitro. Pemuda tanggung nan rupawan itu menyerah dalam pertarungan tak seimbang. Dia terkapar dengan sebilah keris menancap di dada.

Cinta memang tak pernah memberi pilihan. Dalam banyak hal, cinta bukanlah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kehidupan. Bukan pula pertanyaan atas jawaban-jawaban kehidupan. Cinta, mungkin dapat digambarkan sebagai sesuatu yang absurd dalam realitasnya yang kuat, kokoh dan “terkadang” kejam.

Adalah hak bagi Tumenggung Wiroguno untuk jatuh hati pada tatapan mata Mendut. Sungguh, kembang desa Trebanggi, Pati itu telah menyadarkan kembali eksistensinya sebagai lelaki. Ia, sekalipun tua, jelek dan pincang, tetap membutuhkan perempuan untuk berbagi. Telah sekian lama ia korbankan diri dengan olah kanuragan yang tak ada habisnya. Menyempurnakan lelaku, menggapai kesempurnaan ilmu. Kejayaan Mataram pun sesungguhnya tak lepas dari jasanya. Baca entri selengkapnya »

Blog Stats

  • 4,395 hits

Gunemanmu

There are no public comments available to display.
Walk away if you want to
Its ok, if you need to
Well, you can run, but you can never hide
From the shadow thats creepin up beside you

whatever you do
Well, Ill be 2 steps behind you
wherever you go
And Ill be there to remind you

(2 Step Behind, Def Leppard)

Tanggalan

Desember 2014
S S R K J S M
« Mei    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Yen ing tawang ono lintang, cah ayu
Aku ngenteni teka mu
Marang mego ing angkoso
Sun takok-ke pawartamu

Janji janji aku eling cah ayu
Sumedot roso ing ati
Lintang-lintang ngiwi-iwi nimas
Tresna ku sundul ing ati

Ndek semono janjimu disekseni
Mego kartiko keiring roso tresno asih

Yen ing tawang ono lintang, cah ayu
Rungokno tangis ing ati
pinerung swara ing ratri nimas
ngenteni bulan ndadari
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.