BALADA WIROGUNO, CINTA DAN ABSURDITAS YANG KEJAM

Begitulah cinta selalu menunjukkan kuasa. Hanya dengan seperempat jurus yang paling sederhana, Tumenggung Wiroguno menghabisi nyawa Pronocitro. Pemuda tanggung nan rupawan itu menyerah dalam pertarungan tak seimbang. Dia terkapar dengan sebilah keris menancap di dada.

Cinta memang tak pernah memberi pilihan. Dalam banyak hal, cinta bukanlah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kehidupan. Bukan pula pertanyaan atas jawaban-jawaban kehidupan. Cinta, mungkin dapat digambarkan sebagai sesuatu yang absurd dalam realitasnya yang kuat, kokoh dan “terkadang” kejam.

Adalah hak bagi Tumenggung Wiroguno untuk jatuh hati pada tatapan mata Mendut. Sungguh, kembang desa Trebanggi, Pati itu telah menyadarkan kembali eksistensinya sebagai lelaki. Ia, sekalipun tua, jelek dan pincang, tetap membutuhkan perempuan untuk berbagi. Telah sekian lama ia korbankan diri dengan olah kanuragan yang tak ada habisnya. Menyempurnakan lelaku, menggapai kesempurnaan ilmu. Kejayaan Mataram pun sesungguhnya tak lepas dari jasanya.

Sebagai balas budi pula ketika Raja kemudian berkata, “Paman, sungguh beruntung kerajaan ini memiliki panglima perang sepertimu. Kiranya saat ini juga aku bisa membalas perjuanganmu, pasti akan kulakukan. Katakan, Paman! Katakan apa yang kau inginkan?”

Tumenggung Wiroguno diam seribu bahasa dalam sikap duduk sempurna. Matanya seakan memaku lantai. Namun raja muda itu sungguhlah bijaksana. Ia tahu apa yang tersirat dari jawaban tanpa kata Wiroguno. Dan dipanggillah Mendut, abdi perempuannya.

“Paman, masih ingatkah engkau ketika kita berkeliling di pantai utara ada seorang gadis jelita yang kau tawarkan untuk kuambil sebagai selir? Dia adalah Mendut, yang saat ini ada di hadapanmu. Saat itu aku tak mau mengambilnya sebagai selir, karena aku tahu sesungguhnya Paman sangat menginginkannya. Aku bisa membaca dari tatapan mata Paman.”

Tumenggung wiroguno menghaturkan sembah. Dengan suara bergetar kemudian berucap, “Ampun Paduka, sungguh bukan maksud hamba untuk…”

“Tidak mengapa, Paman. Mungkin inilah saat terbaik bagiku untuk membalas jasamu. Ambillah Mendut! Milikilah dia!”

Tidak adil, mungkin bagi Mendut. Keberadaannya memang tidak diimbangi dengan hak untuk menentukan nilai tawar diri. Tetapi, jujur saja, ketidakadilan itu sendiri adalah sesuatu yang bisa diperdebatkan. Ketidakadilan sangat mungkin menjadi pangkal tolak ketidakadilan-ketidakadilan susulan yang saling berlawanan dalam skala yang kian kejam. Ketika suatu hari hadir seorang pemuda gagah nan rupawan bernama Pronocitro sebagai perawat kuda katemenggungan, ketidakadilan susulan itu akhirnya terbukti.

Jalinan cinta mempertautkan hati mereka. Ada perasaan senasib sebagai rakyat jelata — sungguhpun Mendut telah menjadi nyonya tumenggung. Ada dendam yang lahir dari ketidakberdayaan. Ada harapan, meski kecil sekali kemungkinan. Namun lebih dari itu, mereka sama-sama rupawan.

Maka ketika keputusan untuk kabur berdua dari katemenggungan diambil, Mendut dan Pronocitro sesungguhnya telah menggoreskan luka. Luka pada diri siapa? Entahlah. Pun bila kita mau menilai benar atau salah. Karena di dunia memang tak pernah ada kebenaran maupun kesalahan mutlak. Yang ada hanyalah pengakuan-pengakuan dan pengingkaran-pengingkaran, semu maupun terang akan kesucian hati nurani.

Dan di depan sebuah gubuk reyot, di atas bukit sepi nan hijau, Tumenggung Wiroguno menemukan keduanya. Dengan mata memerah, tangan terkepal, lelaki renta itu berkata, “Pronocitro, aku tahu perasaan kalian berdua. Aku tak akan bisa mengingkarinya. Tetapi tidakkah kau tahu betapa hati ini telah mendidih!”

Jantung Pronocitro berdegup keras. Matanya mencoba melawan, tetapi dia hanyalah perawat kuda. Bagaimanapun gagah tubuhnya, kanuragan dia tak punya, apalagi menggunakan senjata.

“Maafkan kami, Tumenggung. Bukan maksud kami menyakiti hati Tumenggung. Kami hanya tak bisa berdusta pada perasaan yang tumbuh di dalam dada. Kami saling mencinta!”

“Aku tahu itu. Aku sadar cinta memang tak bisa dipaksakan. Bagaimanapun sayangku pada Mendut, Mendutlah yang menentukan untuk menyambut atau khianat. Sungguh, aku bisa menerima kekalahan cinta ini. Tetapi sampai detik ini Mendut adalah istri sahku! Dan begitu saja engkau mencurinya. Ini yang tak bisa kuterima. Ketahuilah, pencurian yang kau lakukan hanya layak dibayar dengan kematian!”

Sejarah kemudian mencatat bagaimana Pronocitro mengaktualisasikan cintanya dengan penyerahan jiwa raga. Dia lawan panglima perang Mataram itu dengan sebilah keris yang hanya berselang hitungan detik sudah menancap di dadanya sendiri. Dia menjemput kematian dengan kesadaran penuh. Konon dengan sebentuk senyum tersungging.

Dua pilihan kemudian diberikan Tumenggung Wiroguno kepada Mendut. “Mendut, mungkin ini sangat berat bagimu. Kehilangan kekasih hati sama artinya dengan kehilangan hidup. Hal itu pulalah yang kini kurasakan. Mendut, aku mencintaimu melebihi yang kau tahu. Kembalilah ke kota barsamaku. Menjadi istriku kembali. Dan memulai semuanya dari awal… Tetapi kalau rasa cintamu pada Pronocitro telah menjelma dendam, kubebaskan engkau untuk pergi kemanapun kau mau. Carilah pengganti Pronocitro yang lebih kuat dan tangguh, sehingga kelak bisa kau ajak untuk membalas dendam padaku…”

Mendut masih mendekap erat mayat Pronocitro. Sedang matanya menatap cekung mata suaminya. Sesungguhnya ada rasa iba. Ia tahu benar apa arti kata-kata Wiroguno. Ada ketulusan dari sikap kependekaran. Tetapi apalah arti iba dan ketulusan di tengah kesemena-menaan kenyataan. Dicabutnya keris yang menancap di dada Pronocitro, kemudian menghujamkan ke dadanya sendiri.

Mendut, kembang desa Trebanggi, Pati itu lebih memilih jalan terdekat untuk bisa sampai pada tujuan. Menolak ajakan untuk kembali ke kota sebagai Nyonya Wiroguno. Juga menolak untuk lama-lama menyimpan dendam. Baginya semua telah berakhir. Kecantikkannya, kekuasaan raja, kesaktian Tumenggung Wiroguno, dan ketampanan Pronocitro tak lebih dari ilusi semata…

Saya menulis naskah ini sekedar ingin merekonstruksi tragedi cinta yang pernah terjadi di tanah Jawa. Bahwa cinta adalah bunga penyebar wangi dunia sekaligus nila pembawa malapetaka. Pun demikian, bulu kuduk saya berdiri ketika membayangkan bagaimana akhir dari cerita. Tumenggung Wiroguno berjalan terpincang-pincang menuntun kudanya yang memanggul sepasang mayat. Langit seketika mendung mengiringi perjalanannya menuruni bukit menuju ke pusat kota.

Begitu tiba di pusat kota, segera dia berseru kepada rakyat Mataram yang telah berkumpul menyambutnya, “Rakyatku, hari ini aku membawa sepasang mayat yang saling mencinta. Rawatlah mereka dengan baik dan kuburkanlah dalam satu liang lahat. Aku menyesal telah menghalangi tumbuhnya cinta diantara mereka. Dan biarlah kutanggung sendiri semua derita sebagai hukuman dari Sang Kuasa. Semoga cinta mereka yang kandas di dunia, bisa bersatu di akherat sana…!”

Saya terus termenung, sambil memandangi selembar foto….

 

Madiun-Jakarta-Kuala Tungkal, 2006